Kamis, 10 Oktober 2013

Hidup Memang Seperti Itu

"pemukulan dibalas dengan pembunuhan"
Sepenggal kalimat di atas membuat kita ingin berfikir kembali arti dari kata benar dan salah
siapakah yang salah pemukul atau pembunuh. Dalam dunia modern yang penuh dengan teknologi dan informasi, seorang hakim berpengalamna lulusan luar negeri akan mengatakan tentu saja yang memukul duluan yang salah, karena jika dia tidak memukul terlebih dahulu maka pembunuhan tidak akan terjadi.
dilain pihak hakim muda lulusan universitas lokal mengatakan tentu saja pembunuh harus diberi hukuman karena tindakan yang dia lakukan tidak lah bisa dimaafkan dengan alasan apapun.

membentuk karakter dengan suatu pembenaran ataukah membentuk karakter dengan hukuman. pernyataan ambigu yang hanya Tuhan yang mungkin bisa menjawabnya.

suatu penggalan perkara yang  mungkin saja terjadi kepada seorang guru. Apakah guru itu harus menjadi hakim dalam memutuskan perkara dengan cara mencari bukti-bukti  lalu mengambil keputusan dan menjatuhkan hukuman. Ataukah guru menjadi penengah dan membiarkan mereka berargumentasi untuk memesahkan maslah mereka sendiri. 
 jika anda berada di situasi seperti ini manakah yang akan anda tempatkan diri anda sebagai seorang hakim ataukah sebagai penengah?

Dua cara pandang logika yang bertentangan:
saya akan menjadi hakim karena saya lebih memiliki pengalaman dan kekuatan untuk menemukan bukti lebih akurat dan terpercaya. karena jika saya membiarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri maka akan ada murid yang dominan yang bisa memutar balikkan fakta dari benar menjadi salah, anak yang benar bisa saja menjadi disalahkan karena dia merasa takut dengan anak yang dominan tadi.

saya akan melanjkannya dengan pola pikir yang kedua sebagai penengah sampai jumap.... dilain kesempatan.




dari sekolah, koniciwa  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar